Every Even Day : Tenang Sebentar Mengendapkan
Beberapa hari ini masalah berkecamuk dan belum mencapai pada titik solusi. Semakin hari semakin bertambah dan sangat memengaruhi professionalitas dari penulisan ini. Hal ini terpaksa saya angkat karena tidak ada bahasan yang lebih tepat dari tiga hal yang saya renungkan di bawah ini. Kehampaan mulai terasa meliputi hari-hari yang seharusnya indah dalam satu hingga dua minggu terakhir ini.
Pertama adalah perihal kreatifitas. Terkadang dalam melakukan sesuatu pekerjaan, muncul ide-ide kreatif yang harapannya dapat diterapkan kelak setelah pekerjaan usai. Ide-ide tersebut sering kali hanya melintas begitu saja tanpa ada kelanjutan yang jelas. Berbeda dengan dua minggu belakangan ini, saya cenderung ingin melaksanakan ide-ide saya yang terlintas saat sedang melakukan pekerjaan saya. Menyadari bahwa ide-ide tersebut tidak mungkin terlaksana maka saya menganggapnya menjadi masalah dan larut depresi di dalamnya.
Kedua adalah keadilan. Matematika tidak selalu dapat dijadikan metode pengukuran pasti dalam menentukan keadilan. Perspektif emosi adalah hal yang paling tepat untuk menjawab permasalahan keadilan. Keadilan yang saya pelajari saat di Sekolah Dasar bukan hanya berarti saya tidak suka pedas, namun kedua kakak saya sangat suka pedas, di sisi lain kedua orang tua dan adik saya bisa memakan keduanya lalu keluarga memutuskan untuk memakan satu ayam balado dengan bumbu sambal BBQ dalam bakarannya. Memang saya tetap akan memakan itu karena lapar dan menahan kesakitan pribadi saat merasakan pedas walaupun tetap merasakan bumbu-bumbu BBQ dan rempah-rempah yang memuaskan. Ketidakadilan itu memang tetap saya terima, tapi ruang untuk menampung ketidakadilan tersebut belumlah memadai untuk segera diredakan atau dikosongkan.
Ketiga adalah kesadaran akan penyesalan. Saya pernah mengatakan suatu hal yang hanya mementingkan kelancaran dari suatu proses tanpa mempertimbangkan kembali rasionalitas keputusan tersebut. Hal tersebut berdampak pada ketetapan saya untuk dapat mempertahankan premis yang saya buat atau justru melanggar hal-hal yang pernah saya putuskan. Saya amat sangat menyesal dengan menjadikan komitmen saya dulu sebagai dasar hidup hingga saat ini. Tidak tahu evaluasi dan keputusan apa yang akan saya buat dan saya ambil yang jelas hal ini belum terselesaikan dan masih menjadi problematika pribadi yang harapannya segera terselesaikan. Satu-satunya pelajaran yang dapat saya ambil hanyalah komitmen tidak selalu menjadi dasar hidup, hal itu ibarat harapan yang hendak kamu capai di saat kamu sedang menjalaninya. Saya tidak begitu paham kegunaan komitmen yang sebenarnya apabila hanya sebagai harapan tanpa memperjuangkan ketercapaiannya.
Yang jelas secara ringkas kita hanya berdiskusi ketiga hal ini :
- Jangan pernah membatasi kreatifitas?
- Keadilan bukan berarti menyamaratakan?
- Komitmen adalah harapan?
Harapannya ketika masalah ini selesai, saya dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut dan membagikannya kepada anda. Tetap semangat dan giat bekerja karena Tuhan selalu menyertai anda semua. Cheers!
Mungkin jalan Tuhan
Butuh waktu
Percayalah pada proses
Komentar
Posting Komentar
Berani berkomentar, berani tanggung jawab